Misteri Ghaib Pohon Besar

 

Ya, apa yang membuatnya tenar ? he he ini lain cerita, katanya, makhluk pohon besar tersebut dapat kita pinta, apa saja yang kita ingin aka ia berikan asal.

Ya katanya asal ia di beri sesaji, maka dalam hitungan hari apa yang kita inginkan akan tersampaikan alias berhasil, ah enak jika gitu mah, siapa yang mau coba ayo !

Misteri ghaib pohon besar, Dunia ghaib dan rahasianya adalah sesuatu yang menarik untuk kita ketahui , dan baru – baru ini makhluk ghaib yang menghuni pohon besar di kampung caduk semakin membuat para penduduk penasaran.

Ya, katanya itu yang di alami jang Jedil, penduduk kampung Cduk tersebut, ya penduduk pun melihat kemajuan jang jedil, ya jika dulu jang jedil jlan kaki, sekarang ?

He he ia sudah naik motor, jika dulu jang jedil kotor dan dekil, sekarang ia sudah nyetil, dan perubahan itulah yang membuat para penduduk kampung Caduk tersebut percaya, bahwa ada makhluk penghuni pohon besar yang dapat memberi akan apa yang di pinta seseorang.

Seperti senja itu, si Usrip lagi nyantai di teras rumahnya, ya, ia sedang berunding untuk meminta katanya berkah sih ! dari penghuni pohon besar tersebut, kita lihat sesaji kelihatanya yang suah terbungkus , bagaimana , apa kita siap ? tanyanya.

Ya bukan hanya si Usrip, ada si Begong, Si Dungo dan juga si Tolo dan lainnya , semua mengangguk “ Ok !mengacungkan ibujari masing – masing pertanda siap dan mantap, ya yang aku lihat sesaji itu berisi kopi, juga ada telor , cerutu dan lainnya, wah enak juga jika kita makan ya he he.

Penghuni Pohon Ghaib

Ya , menjelang gelap mereka berangkat, sesaji di gelar dan mereka duduk beralaskan tikar, tampak si Usrip memimpin melafalkan mantra “ jung gayung..jung gayung, kalau beri jangan di gantung, jadi susah dan juga linglung “ dengan suara di gema – gemakan ia melafalkan mantera seperti apa yang di berikan jang jedil untuk meminta di tempat tersebut.

Dan, mereka pejamkan mata, juga seperti yang di sarankan jang jedil, dan sat membuka matanyaajaib sobat ! sesaji yang tadi di gelar sudah lenyap, dan mereka lega , sebab itu adalah pertanda bahwa apa yang mereka sajikan di terima dan apa yang mereka pinta bakal di kabulkan he ..he wk .. wk.

Mereka pulang dengan harapan, tertidur dalam impian panjang tetapi pendek , mempunyai harapan yang tergunting dengan angan – angan dan tak seharusnya seperti itu.melewati satu minggu apa yang mereka harap nggak juga datang, si Usrip “ apa ada yang salah dalam sesaji kita Dil ? ia bertanya pada si jedil . si jedil tersenyum “ mungkin juga katanya .

Apa itu Dil, beritahu aku ? pintanya, ya ini jaman uang atuh kang, jika ingin uang ya kita pancing lagi dengan uang , kan sepadan! Si usrip manggut – manggut “Iya juga Dil , aku lupa itu ! ia tersenyum “ ya , jika besar akan tambah besar dan jika kecil ya gitulah apa adanya, ayo aku pergi dulu, kata si jedil.

Si Usrip akhirnya berunding, ia akan mencoba lagi dan ia kumpulkan uang dari kawan kawannya untuk menambah sesaji agar lebih mantap , sesaji yag suoer untuk penghuni pohon besar , dan seperti yang pertama mereka berangkat melakukan bacaan mantera dan juga ! sesaji lenyap dan mereka lega , sebab rasa – rasanya sesaji kali ini lebih mantap dari yang sebelumnya he he , mereka tertawa suka  “ Mau beli apa kamu Begong, dengan percaya diri Si usrip bertanya. Si Begog pun tertawa “ Ah nggak beli apa – apa Rip he he paling – paling belikereta saja sama pesawat ha ..ha dan ia tertawa suka dan apa yang akan di berikan penghuni pohon besar seakan sudah di depanmatta, lalu apa yang terjadi selanjutnya ?

Kembali pada si Jedil, yang makin hari ain terlihat ia berkecukupan, ia tertawa sendiri he he dan itu bukan gila  he he malah membuat orang lain gila, apa sebabnya ? Si jedil bilang, betapa amat bodohnya para penduduk kampung caduk ia kibuli, he he ia pikir mana bisa sebuah pohon dapat mendatangkan sesuatu yang di pinta manusia, he he bisa juga jika pohon itu kita jual, itupun jika ada yang membelinya, baru jadi eh uang ! walau nggak seberapa..

Ia asyik menyedot serutu yang ia hisap, sesekali melihat tumpukan uang di sampingnya dan juga makanan, ha ha cari uang gampang sekali, tiggal minta he he sudah ada dan dapat aku nikmati, ah bodoh sekali ! ia tersenyum dan bersiap mengambil sesaji berikutnya .

Apa yang si jedil lakukan ? he he usut punya usut, ia nggak meminta pada penghuni pohon besar seperti kebanyakan penduduk kampung Caduk , lalu? He he itulah masalahnya , justeru ia sendirilah sang penghuni pohon besar tersebut, mudah saja, ia tinggal pergi dan mengambil sesaji, kemudian menikmatinya, mudah bukan dan tanpa harus susah payah ! jika sudah begitu siapa yang salah ?

Si jedil makain kaya , sementara penduduk kampung caduk yang terbodohi makin dekil , dan merteka terus berharap dan berharap, menjadi kaya dan banyak harta, dan entah kapan itu akan mereka dapatkan ! apakah itu akan trjadi sampai mereka hilang ingatan dan menjadi tontonan ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *